NOIS.CO.ID -- – Di bagian belakang kantor Deaker di Madinah, baris-baris kursi roda tersusun dengan rapi. Sebagian besar masih dalam kondisi baik dan hanya menumpuk debu tipis saja. Kursi-kursi ini bukan untuk jamaah yang baru tiba, tetapi merupakan sisa-sisa dari musim haji pada tahun 2023.
“Itu kursi roda yang ditinggal jemaah tahun lalu. Banyak yang sengaja diwakafkan karena jemaah merasa tak perlu membawanya pulang. Banyak yang masih bagus,” ujar M. Slamet, Kasi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah.
Kursi roda tersebut saat ini dipersiapkan lagi untuk mendukung para jamaah lanjut usia pada musim haji tahun 2025. Di samping kursi roda, sendal-sendal yang tersisa di hotel serta Masjid Nabawi juga terkumpul.
Beberapa dana tersebut akan dialokasikan ke Sektor Khusus Nabawi, lokasi dimana jamaah sering kali hilang sandal setelah sholat atau saat berwudhu.
Cerita ini hanyalah salah satunya dari berbagai kisah tersembunyi di balik benda-benda yang ditinggalkan dan tidak dipertimbangkan oleh para jamaah.
Saat tahap penyerahan massal dari Madinah menuju Mekkah mulai pada hari Jumat (10/5), risiko hilangnya benda pun menjadi semakin tinggi.
Jemaah terburu-buru, perpindahan hotel cepat, dan area ibadah ramai. Tak heran, setiap hari ada laporan barang tertinggal.
Tetapi bukan berarti seluruh benda segera dianggap hilang atau dibuang. Barang-barang tersebut tidak otomatis dipindahtempatkan sampai akhir masa haji jika belum ada klaim atasnya. Terdapat aturan tertentu untuk melindungi para jamaah dalam hal ini.
"Perkakas tersebut akan kami simpan terlebih dahulu. Jika tak ada yang mengambilnya, mungkin Kami dapat menyalurkannya sebagai Wakaf untuk mereka yang berhak, atau membawanya kembali ke Indonesia. Bisa saja beberapa jamaah menyadari barang hilang setelah kepulangan," papar Slamet.
Slamet menggarisbawahi bahwa segala sesuatu meskipun kecil harus tetap direkam. Apabila terdapat informasi pengenal, petugas akan membandingkannya dengan catatan keberangkatan atau grupnya.
"Ada cukup banyak kursi roda yang tertinggal di bandara, lalu kami mengkoordinasikan hal tersebut dengan pihak maskapai di bandara, setelah itu mereka dikirim ke Daker Madinah, dan nantinya akan ada pencatatan," jelasnya.
Apabila pada kursi roda tersebut terdapat nama pemiliknya, Slamet akan menghubungi wilayah-wilayah di mana jamaah berada. Tetapi apabila tak ada namanya, maka upaya untuk mengembalikannya memerlukan usaha yang lebih besar.
Jangan Cepat Khawatir, Laporkan Segera
Dia juga menekankan kepada jamaah agar tidak serta-merta khawatir ketika menyadari hilangnya benda. Barang itu mungkin saja masih disimpan oleh pegawai atau tersisa di lokasi dan dapat diketemukan lagi.
"Bila jemaah mengalami kerugian, jangan langsung menuduh. Laporlah kepada pihak berwajib, Ketua Rombongan, atau Petugas Sektor," katanya.
Saat masa haji berjalan, pejabat keamanan bekerja sama secara lintas sektor dan menggunakan grup WhatsApp tertentu untuk menukar informasi tentang benda-benda yang ditemukan.
Apabila sesuai, barang dapat langsung dikembalikan ke sektor jemaah atau diambil dari pusat penyimpanan di Daker Madinah.
Item-item seperti sepasang sandals, meskipun tampak remeh, nyatanya sungguh berguna. Tak sedikit jamaah yang meninggalkan pasangan sandals mereka ketika pergi ke kamar mandi atau area wudhu di Masjid Nabawi. Pada situasi mendesak, sandals yang tersisa ini dapat digunakan oleh jamaah lainnya.
"Itulah salah satu bentuk perlindungan untuk jemaah. Barang-barang yang tersisa dapat membantu orang lain yang memerlukan," ungkap Slamet.
Redaksi
Tidak ada komentar