NOIS.CO.ID --– Hari Raya Waisak tidak semata-mata menjadi sebuah ritual agama, melainkan juga saat bagi setiap individu untuk melakukan introspeksi secara mendalam. Perayaan ini mendorong para pemeluknya untuk menyimak kembali prinsip-prinsip utama seperti kemudahan hidup, kedamaian batin, serta penguasaan diri.
Dalam agama Buddha, kendali diri merupakan landasan penting dalam menempuh jalannya menuju penyadaran sejati. Ini melibatkan berbagai elemen termasuk memelihara pikiran, ucapan, serta tindakan seseorang supaya senantiasa sesuai dengan jalan yang tepat dan terbebas dari hal-hal merugikan, misalnya ketamakan atau amarah.
Berikut ini ada tiga metode latihan mengontrol diri yang dapat Anda uji:coba:
1. Bernafas Secara Tepat Untuk Meredakan Fikiran
Dilansir dari health.harvard.edu Bernapas dengan tepat bisa mengurangi stres serta memfasilitasi jalan ke gaya hidup yang lebih bermartabat dan sadar diri. Ketika kita berkonsentrasi pada pernapasan, tubuh akan terasa lebih santai, sementara pikiran juga ikut menjadi damai.
Saat memulai pengendalian diri, langkah awal yang dapat diambil ialah menghirup nafas dalam-dalam secara perlahan guna membawa kesadaran kembali.
Mengacu pada informasi dari sumber serupa, menumpukan fokus pada polanapas secara langsung menghasilkan dampak rileksasi yang cukup besar bagi jasmani dan rohani.
2. Memperpanjang Waktu Respon demi Mendapatkan Hasil yang Lebih Unggul
Tahap berikutnya dalam mengontrol emosi adalah dengan menghentikan respon langsung. Apabila ada orang yang bereaksi tanpa pertimbangan mendalam, mereka cenderung lupa akan akibat dari tindakan tersebut sehingga dapat menyebabkan kelalaian. Dengan menerapkan sedikit penundaan saat merespons, hal ini menciptakan ruang bagi otak untuk bertelepotan dan membuat pilihan yang lebih bijaksana.
Dilansir dari psychologytoday.com, Sebuah penelitian populer bernama "Tes Marshmallow" mengindikasikan bahwa anak-anak mampu memperpanjang kesabaran mereka dengan menanti waktu yang lebih lama agar bisa mendapat dua marshmallow justru mencapai hasil kehidupan yang lebih positif nantinya. Anak-anak ini biasanya meraih prestasi pendidikan yang lebih tinggi, berinteraksi secara sosial dengan cara yang sehat, serta menampilkan tanda-tanda kondisi fisik yang lebih unggul.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa mampu menahan diri untuk tidak segera mendapatkan apa yang diinginkan merupakan tanda utama dari kontrol diri yang efektif, yang mana hal tersebut memengaruhi pengambilan keputusan optimal dalam kehidupan.
3. Sediakan Lingkungan yang Mendorong Perilaku Positif
Akhirnya, menata suasana di sekitar juga amat krusial pada proses kontrol diri. Memiliki tempat tinggal atau bekerja dalam suatu lingkaran yang memberikan dukungan serta sikap optimis dapat meringankan upaya kita untuk menciptakan perilaku baik. Di tengah atmosfer berenergi positif tersebut, kita menjadi lebih gampang merencanakan jalannya hidup secara efektif.
Dilansir dari forbes.com Fokus itu menyebar. Ketika bekerja bersama rekan-rekan sejawat yang kreatif dan terarah, bisa meningkatkan kemampuan kita dalam manajemen waktu. Sama seperti ketika melaksanakan perbuatan baik; bila kita ada di tengah-tengah suasana yang mendorong perilaku mulia, maka semakin besar dorongan bagi kita untuk menjalankan tindakan positif. Suasana yang kondusif ini amat memberi dampak pada disiplin diri, karena biasanya kita akan performa maksimal apabila berada di antara individu-individu yang optimis serta berkonsentrasi pada aspek-aspek luhur hidup.
Dengan menerapkan 3 tahapan ini, kita dapat mengawali upaya melaksanakan disiplin diri agar dapat menikmati kehidupan dengan lebih damai. Acara Waisak yang sarat akan nilai-nilai ini juga bisa dijadikan kesempatan ideal untuk introspeksi dan menyempurna diri.
Menguasai diri sendiri tidak terwujud dengan cepat, namun melalui latihan yang berkelanjutan dan disertai pemahaman mendalam.
(*)
Redaksi
Tidak ada komentar