Beranda
NEWS
Dampak yang Dapat Terjadi dari Serangan AS terhadap Iran
Redaksi
Juni 23, 2025

Dampak yang Dapat Terjadi dari Serangan AS terhadap Iran

MILITER Amerika Serikat mengebom tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu malam, 21 Juni 2025. Serangan AS Yang menargetkan fasilitas nuklir Isfahan, Natanz, dan Fordow itu bisa berdampak pada negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Menurut analisis dari Timur Tengah Universitas Indonesia (UI), Muhammad Syaroni Rofii, menilai serangan sepihak AS terhadap Iran semakin membuat dunia dalam ketidakpastian.

Syaroni berpendapat, sejauh ini, Iran telah menganggap AS sebagai mediator untuk urusan nuklir, tetapi ketika ada tindakan sepihak tanpa restu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), maka itu telah menjadikan posisi AS tidak seperti pemimpin global.

Dia menuturkan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran telah mengundang respons dari pihak Iran. "Petinggi Iran sempat menyinggung akan menargetkan aset militer AS di kawasan, jika negara itu sampai ikut campur. Yang pasti Iran tidak tinggal diam," katanya. ketika dihubungi di Jakarta pada Minggu, 22 Juni 2025, seperti dikutip dari Antara .

Syaroni juga mengatakan serangan AS ke Iran juga berdampak pada kondisi di kawasan saat ini. "Kawasan Timur Tengah tentu akan bergejolak, sebab sekutu AS di kawasan tentu berharap AS dapat menggunakan pendekatan diplomatik. Namun dengan adanya peristiwa ini, maka eskalasi berpotensi terjadi di beberapa titik," ujarnya.

According to him, at the global level, the event would trigger tension because the actors no longer consider international law and consensus as guidelines.

"Yang paling terdampak tentu saja adalah ekonomi global, harga minyak berpotensi naik, rantai pasokan berpotensi terganggu manakala ada eskalasi terus menerus," katanya.

Serangan AS ke Iran Bisa Jadi Lonceng Perang Global

Menurut pengamat Timur Tengah dari Universitas Ibnu Chaldun, Ezza Habsyi, serangan AS ke Iran bisa menjadi lonceng perang yang menyulut krisis regional menjadi konflik global, sehingga bukan hanya merupakan eskalasi militer.

Alasannya, Iran kini berada dalam posisi di mana balasan militer bukan sekadar kemungkinan, melainkan sebuah keniscayaan politik. "Dalam doktrin strategisnya, serangan terhadap infrastruktur nuklir adalah deklarasi perang," ujar Ezza ketika dikonfirmasi di Jakarta pada Senin, 23 Juni 2025.

Ezza menyebutkan kehadiran pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania kini berubah menjadi sasaran potensial. Maka dari itu, dia mengaku tidak heran jika pasukan Iran bersiaga penuh di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia.

Jika jalur tersebut ditutup, dia menilai bukan hanya Tel Aviv yang akan terbakar, melainkan seluruh pasar global akan terguncang oleh lonjakan harga energi, inflasi, dan kepanikan finansial.

Di sisi lain, dia berpendapat bahwa semua pihak tidak bisa menutup mata terhadap 'arsitektur poros resistensi'. Sebutan itu sering digunakan oleh para analis merujuk pada sebuah kelompok yang mempertimbangkan dan merespons berbagai jenis tekanan.

Karena itu, Ezza mengatakan kelompok Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak dan Suriah, hingga kelompok Houthi di Yaman akan bersiap menjadi alat pukul Teheran untuk menyerang kepentingan Amerika dan Israel di berbagai posisi.

Dengan demikian, kata dia, keterlibatan langsung AS terhadap Iran, terutama dengan serangan terhadap situs nuklir, nyaris menjamin eskalasi besar-besaran di Timur Tengah.

"Perang dunia bukan tidak mungkin, tetapi masih berada dalam kerangka skenario terburuk dan akan sangat bergantung pada langkah selanjutnya dari Rusia dan Tiongkok," ujar Ezza.

Dia menyebutkan, jika konflik tidak segera diredam, rantai eskalasi bisa menjalar cepat. Apalagi, jika Iran betul-betul memblokir Selat Hormuz dan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika.

Perang Iran-Israel Akan Berdampak pada Ekonomi Indonesia

Sementara itu, pengamat Ekonomi dari Universitas Widya Mandira, Thomas Ola Langoday, menilai perang antara Iran dan Israel yang hingga saat ini masih berlangsung akan berdampak pada ekonomi Indonesia kedepannya khususnya dalam hal distribusi dan konsumsi.

"Meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan ekonomi secara langsung dengan Israel, namun dengan Iran dan mitra kedua negara, seperti AS, Jerman, negara-negara Arab, jelas terganggu," katanya pada Ahad, 22 Juni 2025.

Thomas menyampaikan hal itu berkaitan dengan analisisnya perihal dampak perang antara Iran dan Israel, yang mana kini Amerika telah terlibat, terhadap perekonomian Indonesia. Dia menjelaskan perang yang terjadi di antara kedua negara sudah pasti akan mengganggu keamanan produksi. Manajemen rantai pasok barang dan jasa ke kedua negara yang berperang dan mitranya terganggu, salah satunya adalah Indonesia.

Selain itu, kata dia, keamanan distribusi terganggu di mana distribusi barang dan jasa, impor dan ekspor ke kedua negara yang berperang dan mitranya menjadi terganggu. "Perang ini mengganggu banyak negara yang mempunyai hubungan dagang," ujar mantan Wakil Bupati Lembata, Nusa Tenggara Timur, tersebut.

Dari sudut pandang keamanan, permintaan barang dan jasa juga terpengaruh seperti di sektor pariwisata, pendidikan, kesehatan, dan layanan lainnya yang terganggu. Dia juga menyatakan bahwa perang yang terjadi di kedua negara pasti akan berdampak pada pertumbuhan sektor ekonomi bagi negara manapun.

"Hanya dua negara yang berperang tetapi dampak negatifnya bagi semua negara mitra. Tidak ada ekonomi yang tumbuh di masa perang. Karena perang hanya menghabiskan semua sumber daya," katanya menambahkan.

Oleh karena itu, dia menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk mempertahankan manajemen rantai pasok yang sudah berjalan. Selain itu, penting untuk melanjutkan kebijakan luar negeri yang mandiri dan aktif. "Pemerintah Indonesia sebaiknya fokus pada penanganan masalah kemiskinan, pengangguran, serta mendorong daya beli masyarakat," katanya.

Antara berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Penulis blog

Tidak ada komentar