Beranda
european football
football clubs
football players
soccer
sports
PSG dan Inter Milan Tanpa Bintang Besar Menuju Final Liga Champions 2025: Era Baru untuk Klub Klassemen Dua
Redaksi
Mei 11, 2025

PSG dan Inter Milan Tanpa Bintang Besar Menuju Final Liga Champions 2025: Era Baru untuk Klub Klassemen Dua

NOIS.CO.ID -- Paris Saint-Germain (PSG) serta Inter Milan bakal bersua di partai pamungkas Liga Champions 2025 setelah menempuh rute yang dipenuhi kejutan dan menyaksikan perubahan signifikan dalam pembentukan skuad masing-masing klub.

Setelah bertahun-tahun bergantung pada tiga bintang besar yaitu Lionel Messi, Kylian Mbappé, dan Neymar, PSG akhirnya berhasil mencapai babak final Liga Champions berkat transformasi signifikan dalam cara kerja klub tersebut.

Semua tiga orang tersebut sekarang sudah pergi dari Paris, masing-masing menuju Spanyol, Brasil, dan bagian selatan Florida. Kehadiran mereka di sana mengakhiri usaha besar yang tidak berhasil mencapai tujuan untuk menyumbangkan trofi Liga Champions kepada klub Paris ini.

Walau demikian, di bawah arahan Luis Enrique, PSG justru tumbuh menjadi skuad muda yang kaya bakat serta cepat. Mereka melaju ke babak final setelah mengalahkan Arsenal dengan skor 2-1 pada hari Rabu itu, sehingga aggregate kedua legnya mencapai 3-1. Selama dua tahun belakangan ini, PSG telah bertransformasi dari sebuah proyek ambisius dengan egosentrisme tinggi menjelma sebagai salah satu tim termuda dan paling menonjol di daratan Eropa.

"Tujuan utama saya adalah menghadirkan hiburan yang mempesona bagi para penggemar kita. Mereka membayar demi melihat suatu pementasan, dan hal itu juga berlaku dalam sepak bola," ungkap Luis Enrique.

Kemajuan dalam strategi permainan PSG baru nampak jelas semenjak mereka meraih kemenangan dramatis atas Manchester City pada bulan Januari yang lalu, setelah hampir gagal lolos dari babak penyisihan grup. Setelah momentum tersebut, tim ini meneruskan performanya dengan mengalahkan Brest, Liverpool, Aston Villa, serta Arsenal di putaran eliminasi. Di sepuluh pertandingan terakhir Liga Champions, PSG sukses menjaringkan 29 gol.

Pembangunan kekuatan PSG saat ini tak terlepaskan dari fokus mereka pada para pemain muda seperti Desire Doué yang masih berumur 19 tahun. Di samping itu, kedatangan Ousmane Dembélé dan Khvicha Kvaratskhelia dari klub Napoli pun telah memberikan kontribusi signifikan dalam penyerangan tim. Terutama Kvaratskhelia yang menunjukkan performa mengagumkan ketika bertemu dengan Arsenal, membuktikannya sebagai sosok penting di sektor sayap kiri lapangan.

Pada saat bersamaan, musuh bebuyutan PSG dalam pertandingan akhir mendatang, yaitu Inter Milan, tiba dengan cerita perombakan yang tidak kurang dramatis. Selama lima tahun belakangan, Inter telah melalui masa sulit karena terjebak dalam krisis keuangan hingga menumpuknya hutang senilai USD 900 juta. Bahkan klub ini sempat diselamatkan lewat pengambil-alihan oleh para pemodal penyelamat.

Berbeda dengan PSG yang masih bergantung pada suntikan modal besar, Inter lebih memilih untuk mendatangkan para pemain bermassa dengan biaya terjangkau. Sebagai contoh adalah Davide Frattesi, seorang gelandang yang direkrut dari Serie A senilai USD 35 juta. Frattesi tampil sebagai pahlawan saat menyumbangkan gol kemenangan di masa perpanjangan waktu ketika bertemu Barcelona, hasil ini pun menjamin Inter bisa maju ke babak akhir.

Di samping Frattesi, Inter juga mempercayai keahlian Denzel Dumfries, pemain belakang dari Belanda yang dibeli seharga USD 16 juta. Dumfries telah memberikan kontribusi signifikan dengan total lima gol dan assist dalam pertandingan semifinal. Tidak dapat dilupakan, Francesco Acerbi, bek senior berumur 37 tahun yang pernah bertarung melawan kanker, ikut membantu tim sebagai pahlawannya setelah berhasil menyamakan skor saat menghadapi Barcelona.

Simone Inzaghi menyatakan rasa bangganya terhadap usaha timnya.

"Memerlukan kinerja luar biasa untuk menghasilkan dua pertunjukkan fantastis di lapangan. Saya merasa sangat bangga menjadi pelatih mereka; mereka telah memberikan semua yang mereka miliki bagi tim," kata Inzaghi.

Pertandingan final Liga Champions tahun 2025 di Munich bakal menyatukan dua klub dengan proses transformasi mengagumkan. Paris Saint-Germain, yang sebelumnya sangat bergantung kepada bintang-bintang besar, saat ini telah meraih kesuksesan dengan strategi pengembangan pemain muda serta cepat.

Pada saat yang sama, Inter Milan berhasil keluar dari kesulitan keuangan berkat memanfaatkan pemain muda bertalenta dan berkarakter tangguh.

Baik PSG maupun Inter sama-sama telah mengalami kekalahan di final selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, PSG dikalahkan oleh Bayern Munich, dan pada 2023 giliran Inter yang jatuh di tangan Manchester City. Sekarang, kedua klub ini berambisi menciptakan catatan baru mereka sendiri di Stadion Allianz, Munich.

Siapa yang bakal mencetak sejarah? PSG bersama skuad muda mereka, atau Inter Milan dengan spirit pembaruan mereka?

Penulis blog

Tidak ada komentar