Pada acara Penutupan Kongres PSI, hari Minggu (20/7) yang lalu, Presiden Prabowo menyentuh soal tagar #KaburAjaDulu yang sempat ramai di media sosial."Indonesia gelap, kabur aja deh. Yo kabur aja loh, emang gampang lo disitu, di luar negeri?," kata Presiden.
Presiden pasti memahami betapa sulitnya hidup di negara lain, mungkin berdasarkan pengalamannya yang mengasingkan diri ke Yordania setelah kehilangan karier militer pada tahun 1998.
Meskipun beberapa negara pernah menawarkan kepada warga asing untuk tinggal di negaranya karena alasan tertentu, tetapi masalah terbesar adalah adaptasi budaya.
Misalnya Jepang yang pada bulan Januari lalu menawarkan insentif berupa uang tunai sekitar Rp 500 juta kepada pendatang yang bersedia pindah dan tinggal di daerah pedesaan di sana.
Banyak orang berpikir: "wah ini sih mudah!" karena di Indonesia juga banyak daerah pedesaan, bahkan ada permukiman di kota-kota besar, jadi apa susahnya tinggal di desa?
Pikiran seperti itu sebenarnya sangat salah.
Berdasarkan pengalaman penulis, kehidupan pedesaan di Jepang sangat berbeda jauh dengan kehidupan pedesaan di Indonesia. Jika ingin tinggal di Jepang, orang Indonesia harus beradaptasi sepenuhnya dengan budaya Jepang secara umum.
Persiapan sangat penting untuk adaptasi kehidupan di Jepang, mulai dari belajar bahasa Jepang, penyesuaian fisik, sosial, lingkungan, budaya hingga program homestay di rumah orang Jepang agar tidak mengalami culture shock.
Apa saja perbedaannya antara kehidupan sosial Jepang dan Indonesia? Mari kita bahas hal-hal yang dianggap tabu di sana yang sepele-sepele saja yaa...
Lalu Lintas:
Jika menyeberang jalan tidak melalui zebra cross atau trotoar penyeberangan, siap-siap ditangkap oleh petugas kepolisian. Teman penulis pernah mengalaminya, untungnya dia memiliki kartu nama penanggung jawab program on the job training yang sedang kami jalani, sehingga bisa lolos dari hukuman dengan syarat bebas. Jalur sepeda ada di trotoar yang digunakan bersama para pejalan kaki. Mereka memiliki toleransi tinggi untuk saling mengalah. Tapi jangan coba-coba naik sepeda atau berjalan kaki di jalan raya ya... bisa juga tertangkap. Pengemudi mobil juga banyak yang saling mengalah dan memberi jalan kepada mobil lain. Jika menemui tulisan "stop" di pertigaan atau perempatan jalan, mereka pasti patuh untuk berhenti meskipun jalanannya terlihat sepi.Angkutan Umum:
Transportasi utama di Jepang adalah kereta. Kepadatan antar penumpang sudah biasa, tapi antrian untuk masuk ke kereta sangat tertib dan rapi, mereka selalu memberi prioritas kepada penumpang yang akan turun. Dilarang berbicara keras atau menggunakan ponsel saat di dalam kereta, bus, atau transportasi umum lainnya. Bicaralah dengan pelan dan ponsel dalam mode diam.Ruang Terbuka:
Dilarang makan sambil berjalan! Ini dianggap tidak sopan dan berpotensi menyebabkan sampah. Karena itu, jika membeli makanan di pinggir jalan, makanlah di area tempat kita membeli atau di tempat khusus untuk makan, jika tersedia. Di tempat umum, tidak ada sampah berserakan bahkan tidak ada tempat sampah. Jika orang Jepang ingin membuang sesuatu, biasanya mereka membawanya pulang terlebih dahulu untuk dibuang di rumah. Dilarang teriak-teriak atau bersuara keras di area publik, termasuk dilarang kissing atau berpelukan. Ini juga dianggap tidak sopan. Dilarang meludah atau membuang ingus meskipun menggunakan tisu atau sapu tangan karena dianggap tidak higienis. Jika darurat, silakan cari toilet umum.Lain-lain:
Dilarang berbicara di dalam lift karena lift adalah area yang harus tenang dari segala suara. Sama seperti kebanyakan rumah di Indonesia, di Jepang juga wajib membuka sepatu atau sandal saat akan masuk ke dalam rumah atau bahkan masuk ke beberapa restoran tradisional karena inilah budaya Jepang. Dilarang memberi tip kepada siapa pun. Berbeda dengan Indonesia, di sini perlu memberi tip untuk memperlancar urusan.Jadi, tidak heran ketika oknum pencak silat di Jepang melakukan sesuatu yang tidak dilarang di Indonesia dengan alasan demokrasi, tapi justru membuat masyarakat Jepang bingung!
Memang mudah?
*
Redaksi
Tidak ada komentar