NOIS.CO.IDHasnah (45) mengambil gula, minyak goreng dan tepung dari rak Koperasi Merah Putih (KMP) Desa Indrasari Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, Jumat (1/8/2025).
"Lebih murah. Untung saya anggota koperasi, jadi enak berbelanja di sini," kata warga Jalan SMP 3 Kompleks Bangun Mandiri Desa Indrasari tersebut. Namun menurutnya, ada beberapa bahan pokok yang belum tersedia.
Sekretaris KMP Indrasari M Maulani Hermawan mengatakan usaha penjualan sembako berjalan sejak koperasi ikut diluncurkan secara nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin 21 Juli 2025.
"Juga ada transaksi penarikan tunai, pembayaran melalui Brilink dan penjualan elpiji tiga kilogram," katanya.
Anggotanya juga meningkat dari 150 menjadi 250. Menurut Maulani, semua layanan tersebut dapat dinikmati oleh anggota serta warga Indrasari lainnya.
Dia menawarkan barang-barang seperti minyak goreng, gas portabel, gula, dan air minum kemasan dari ID Food. Ada juga dari Bulog seperti beras premium, gula, dan minyak goreng.
"Kami telah menyediakan beberapa barang murah dan kebutuhan pokok bagi warga. Ke depan akan ditambah lagi produknya bekerja sama dengan Indomarco," katanya.
Sementara ini KMP Indrasari belum menerima modal dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau pihak lain. Oleh karena itu, usaha pinjaman untuk anggota belum dapat dilakukan.
"Untuk sementara modal masih menggunakan uang simpanan anggota. Jadi sementara ini anggota belum bisa meminjam karena keterbatasan modal," jelasnya.
Namun demikian, Maulani optimis koperasi dapat berjalan dan berkembang.
Selain toko sembako, di koperasi ini ada toko obat dan klinik. Namun dua layanan tersebut masih tutup.
Mewakili Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan Banjar I Gusti Made Suryawati, Kepala Bidang Perkoperasian Muryani Hastuti mengatakan pihaknya masih dalam proses persiapan izin apotek dan klinik desa di Dinas Kesehatan.
"Kekurangan lain pada KMP Indrasari, yang merupakan KMP percontohan di Banjar, akan dilakukan pembinaan sesuai tugas pokok," katanya.
Muryati mengatakan pihaknya akan menyelenggarakan rapat dengan satuan tugas, yang dipimpin oleh sekretaris daerah selaku wakil ketua satgas.
"Pemerintah Kabupaten Banjar melalui satgas terus berkoordinasi dengan BUMN dan distributor kebutuhan pokok," katanya.
Mengenai pembinaan sumber daya manusia, Muryani mengatakan pihaknya menunggu arahan dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat.
KMP Kelurahan Telawang Kecamatan Banjarmasin Barat Kota Banjarmasin juga menjadi KPM percontohan. Namun hampir dua pekan setelah peresmian, koperasi di sebuah ruko Jalan Sutoyo S ini terpantau tutup, Jumat siang.
Suasana ruko terlihat sepi. Tidak terlihat adanya aktivitas. Meskipun demikian, papan nama KPM Telawang masih terpasang di depan.
Saat dikonfirmasi melalui telepon dan pesan singkat, Ketua KMP Telawang, Hamdani, belum memberikan respons hingga malam Jumat.
Seperti koperasi pada umumnya, KPM dikenal menjual kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau. Selain itu, melayani transaksi elektronik dan simpan pinjam khusus anggota koperasi.
Sementara Kabid Koperasi Diskopkumker Banjarmasin Edy Junaidi menyatakan KPM percontohan di kota ini mendapat dukungan dari mitra pemerintah pusat. Seperti halnya sembako yang disuplai oleh mitra usaha Kementerian Koordinator Bidang Pangan serta obat-obatan dari Kementerian Kesehatan.
Barang-barang tersebut merupakan barang pinjaman dari distributor atau mitra bisnis, yang dapat dijual oleh KMP. "Nanti keuntungan dari hasil penjualan, sepenuhnya menjadi milik koperasi," katanya, Kamis (31/7/2025).
Edy menjelaskan KMP juga diberikan akses khusus untuk bisa mendapatkan pembiayaan modal usaha dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). "Pembiayaan juga bisa mereka dapat dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) milik Kementerian Koperasi, dengan bunga hanya sebesar 3 persen," jelasnya.(lis/mel)
Tunggu Modal Himbara
Sementara KMP Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut masih menunggu modal.
"Kami sudah siap menjalankan usaha. Tinggal menunggu modal," kata Ketua KMP Desa Gunungraja Tobrani, Kamis (31/7).
Pengurus juga menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat untuk memulai operasional. Berdasarkan informasi yang diperoleh Tobrani, KMP mendapat plafon modal usaha sebesar Rp 3 miliar dari Himbara.
Jika dana sudah tersedia, usaha awal yang akan dijalankan KMP Gunungraja adalah menjadi agen elpiji. Tobrani mengatakan pengurus telah melakukan kajian.
Untuk pembelian satu truk sekitar Rp 500 juta. Sisanya digunakan untuk membeli 560 tabung gas melon, membangun gudang dan kantor serta peralatan lainnya. Usaha tersebut pada tahap awal diperkirakan menyerap tiga tenaga kerja, termasuk satu sopir.
Potensi usaha ini, menurut Tobrani, besar yaitu bisa melayani warga 20 desa, baik di Tambangulang maupun kecamatan tetangga seperti Kurau.
Tobrani mengatakan persiapan telah dilakukan. Papan nama telah dibuat. Demikian pula buku tabungan hingga nomor pajak wajib pajak (NPWP).
Mengenai lokasi, Tobrani mengatakan telah disiapkan. Meskipun tidak berada di tepi jalan utama, tempatnya strategis untuk dijadikan gudang dan kantor agen.
"Insya Allah kami akan mengajukan proposal ke Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag) Tala untuk menjadi agen gas," katanya.
Pemerintah pusat memasukkan KMP ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengatakan penentuan ini menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi berbasis koperasi.
"Koperasi Desa Merah Putih telah menjadi Program Strategis Nasional berdasarkan arahan langsung Bapak Presiden," kata Budi Arie, Jumat.
"Program Kopdes Merah Putih adalah program strategis karena program ini memiliki dampak sosial yang besar dengan kelayakan usaha dan bisnis yang diharapkan menguntungkan dan berkelanjutan," tambahnya.
KMP memang bertujuan membentuk koperasi modern di setiap desa atau kelurahan yang dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi warga, mulai dari pembiayaan usaha, pelatihan kewirausahaan, hingga pengelolaan hasil produksi lokal.(roy/kompas)
Redaksi
Tidak ada komentar