SURAT KABAR-PIKIRAN RAKYAT -Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mendorong 18 kabupaten/kota untuk mengubah metode pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPSA) dari sistem open dumping menjadi teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF). Pada akhir tahun ini, tidak boleh lagi ada TPSA di Jawa Barat yang menggunakan cara penimbunan konvensional.Sebagai langkah percepatan, Herman meminta pemerintah daerah untuk mencontoh keberhasilan TPSA Cimenteng di Kabupaten Sukabumi yang telah menerapkan teknologi RDF.
"Kami menargetkan minimal 18 kabupaten/kota yang masih menggunakan sistem open dumping dapat beralih ke RDF sebelum akhir tahun," kata Herman, Jumat 1 Agustus 2025.
RDF adalah teknologi yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara untuk kebutuhan industri. Penerapannya dinilai sebagai solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan.
Herman menjelaskan, faktor utama keberhasilan penerapan RDF adalah kolaborasi dengan pihak offtaker (pengguna hasil olahan). Seperti di TPSA Cimenteng, PT Semen Jawa berperan sebagai mitra pengelola sekaligus pembeli produk RDF.
Pada hari Kamis, 31 Juli 2025, Herman telah meresmikan operasional TPSA Cimenteng di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. "Kabupaten Sukabumi menjadi contoh yang baik, dan kami akan mendorong replikasi di daerah lain. Kuncinya terletak pada kerja sama dengan offtaker, seperti PT Semen Jawa yang bertindak sebagai pengelola," katanya.
Selain manfaat lingkungan, teknologi RDF juga memiliki nilai ekonomi. Herman mengungkapkan, biaya produksi RDF di TPSA Cimenteng mencapai Rp 200.000 per ton, sementara offtaker membelinya seharga Rp 300.000 per ton, memberikan keuntungan Rp 100.000 per ton.
"Dari segi ekonomi, ini sangat layak. Biaya produksi Rp 200.000 per ton, dijual Rp 300.000, sehingga ada margin keuntungan," katanya.
Tidak hanya fokus pada TPSA milik kabupaten/kota, Herman juga berencana menerapkan RDF di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, yang dikelola oleh Pemprov Jabar. "Kami bertanggung jawab untuk menduplikasi keberhasilan ini, termasuk di TPPAS Sarimukti yang nantinya akan menggunakan teknologi RDF," katanya.
Kota Bandung
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain memastikan Pemerintah Kota Bandung akan terus mengoptimalkan teknologi pengolahan sampah. Salah satu lokasi yang dinilai telah berjalan dengan baik adalah Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Pasar Astanaanyar.
Iskandar Zulkarnain yang biasa dipanggil Zul mengatakan, TPS Astanaanyar mampu memproses sekitar 5 ton sampah per hari, yang sebagian besar merupakan sampah organik pasar. Hasil pengolahan sampah, katanya, juga positif karena tidak menghasilkan asap dan bau.
"Kekurangan pasokan saat ini justru terjadi. Oleh karena itu saya meminta camat dan lurah untuk mengajak warga sekitar berpartisipasi. Sampah dari lingkungan dapat dimanfaatkan agar alat ini bekerja secara maksimal dan lingkungan menjadi lebih bersih," kata Zul, Jumat 1 Agustus 2025.
Ia mengklaim, TPS Astanaanyar menggunakan teknologi termal tanpa menghasilkan asap beracun maupun bau menyengat. "Bukan pembakaran habis. Tidak menimbulkan polusi dan hasilnya masih bisa dimanfaatkan," katanya.
Selain di TPS Astanaanyar, katanya, TPS Motah di wilayah Bandung Kulon juga memanfaatkan dua unit mesin pemusnah sampah. "Dua mesin ini menjadi aset penting dalam mengurangi beban ke TPA, dengan satu mesin saja sudah bisa memproses 15 ton sampah per hari," katanya.
Pengolahan sampah di TPS Motah, katanya, bahkan dapat menghasilkan blok beton, yang kemudian digunakan untuk infrastruktur di TPS. Selain memanfaatkan sisa limbah, pemanfaatan teknologi di TPS tersebut juga menghasilkan ekonomi sirkular.
Zul menilai, pengoptimalan teknologi pengolahan sampah juga perlu dikembangkan di berbagai titik lain. Dengan demikian, volume sampah Kota Bandung yang dikirimkan ke TPA Sarimukti bisa semakin berkurang, apalagi kapasitas TPA Sarimukti kian terbatas.
Zul juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber, agar pengolahan berjalan lebih efisien. (Hendro Husodo, Novianti Nurulliah)***
Redaksi
Tidak ada komentar