Beranda
Afrika
Asia
Indonesia
Palestina
politik
153 Warga Palestina Tiba Secara Misterius di Afrika Selatan, Dari Mana Saja
Redaksi
November 16, 2025

153 Warga Palestina Tiba Secara Misterius di Afrika Selatan, Dari Mana Saja

JOHANNESBURG, PESANKU.CO.ID- Pemerintah Afrika Selatan menyelidiki kedatangan 153 warga Palestina yang tiba secara misterius dengan penerbangan carteran dari Kenya.

Mereka mendarat di Bandara Internasional OR Tambo, Johannesburg, pada Kamis (13/11/2025) tanpa dokumen perjalanan yang sah.

Ratusan penumpang tersebut ditahan di dalam pesawat selama 12 jam oleh otoritas perbatasan karena tidak memiliki stempel keberangkatan, tiket pulang, maupun informasi akomodasi di Afrika Selatan.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kedatangan kelompok ini sebagai sesuatu yang misterius.

Ia menegaskan, negara telah menerima mereka berdasarkan belas kasihan, sambil menyatakan bahwa investigasi akan dilakukan untuk mengungkap latar belakang perjalanan mereka.

"Mereka orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius dinaikkan ke pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini," kata Ramaphosa kepada wartawan, Jumat (15/11/2025).

"Kita jelas perlu melihat asal-usul perjalanan warga Palestina ini, di mana awalnya, alasan mengapa mereka dibawa ke sini," lanjutnya, dikutip dariThe Guardian.

Suhu pesawat sangat panas, banyak anak menangis

Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan Leon Schreiber mengonfirmasi, tidak ada seorang pun dari warga Palestina itu yang mengajukan permohonan suaka.

"Setelah kami yakin bahwa ketiadaan beberapa elemen dalam rencana perjalanan mereka tidak akan membuat mereka terlantar di Afrika Selatan tanpa mengajukan permohonan asil, para wisatawan diperbolehkan masuk dengan bebas visa selama 90 hari standar, asalkan memenuhi persyaratan standar," jelas Schreiber.

Dari 153 penumpang, 130 orang akhirnya diizinkan masuk ke Afrika Selatan, sedangkan 23 orang lainnya melanjutkan perjalanan ke negara lain.

Belum diketahui secara pasti dari mana keberangkatan awal mereka, mengingat akses keluar dari Gaza atau Tepi Barat yang diduduki Israel sangat terbatas.

Pendeta yang pernah diizinkan naik ke pesawat untuk menemui para penumpang menggambarkan situasi yang memprihatinkan.

Ia mengatakan kepada stasiun televisi nasionalSABC,suhu di dalam pesawat sangat panas. Banyak anak-anak berkeringat, menangis, dan berteriak.

Kelompok kemanusiaan lokal, Gift of the Givers, turun tangan dengan menawarkan dukungan dan akomodasi.

Ketua sekaligus pendiri organisasi tersebut, Imtiaz Sooliman, menyebut bahwa ini adalah penerbangan kedua dalam dua minggu terakhir yang membawa warga Palestina ke Afrika Selatan.

"Warga Palestina tidak tahu ke mana mereka diberangkatkan, baru ketika di Kenya mereka menyadari bahwa mereka akan datang ke Afrika Selatan," kata Sooliman.

"Beberapa dari mereka memiliki visa untuk Kanada, Australia, dan Malaysia. Mereka akhirnya diizinkan pergi ke negara-negara tersebut," tambahnya.

Dugaan eksploitasi

Kedutaan Besar Palestina di Afrika Selatan menyampaikan kekhawatiran terhadap dugaan eksploitasi yang dialami oleh kelompok tersebut.

Mereka menyebutkan, perjalanan dua kelompok warga Palestina itu diatur oleh organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan.

"Organisasi itu memanfaatkan kondisi kemanusiaan yang tragis dari rakyat kami di Gaza, menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab," demikian pernyataan Kedutaan Palestina.

Kejadian ini kembali memicu perdebatan di Afrika Selatan mengenai sikap pemerintah terhadap konflik Gaza.

Negara tersebut dikenal sebagai salah satu pendukung vokal perjuangan Palestina. Pada tahun 2023, pemerintah Afrika Selatan bahkan mengajukan gugatan genosida terhadap Israel ke Mahkamah Internasional.

Namun, keterlambatan yang dialami penumpang di bandara mendapat kritik dari sejumlah warga.

Mereka menilai pemerintah terlambat menindaklanjuti komitmen dukungan politik terhadap Palestina.

Di sisi lain, sejumlah pihak juga menyoroti kekhawatiran keamanan nasional akibat kurangnya informasi mengenai penerbangan tersebut.

Pemerintah Afrika Selatan berjanji akan menyelidiki secara tuntas pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman rombongan tersebut secara tidak resmi.

Penulis blog

Tidak ada komentar