Beranda
anak muda
berita lokal
hiburan
masyarakat
politik
Pemuda Yogyakarta Melawan Dominasi Gawai Melalui Komunitas Bermain
Redaksi
November 16, 2025

Pemuda Yogyakarta Melawan Dominasi Gawai Melalui Komunitas Bermain

Ringkasan Berita:
  • Komunitas Bermain Yogyakarta (KBM Jogja) didirikan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional dan melawan dominasi gadget.
  • KBM Jogja adalah ruang aman yang cocok bagi pemuda dan pemudi untuk memperluas relasi dan menemukan teman baru.
  • Antusiasme tinggi peserta terhadap kegiatan bermain bersama.

NOIS.CO.ID–Di tengah gempuran game online dan dominasi gadget, sekelompok pemuda di Yogyakarta menggalakkan gerakan nostalgia dengan cara menghidupkan kembali permainan tradisional Indonesia.

Komunitas Bermain Yogyakarta (KBM Jogja) menjadi sebuah wadah untuk menjembatani generasi Z dengan warisan budaya yang mulai terlupakan.

Komunitas Bermain berawal dari Jakarta, tepatnya di GBK (Gelora Bung Karno), pada Agustus 2024.

Bermula dari niat yang sederhana yaitu hanya bermain, namun aktivitas ini menjadi ramai setelah diunggah di media sosial.

Keberhasilan di pusat ini kemudian menyebar menjadi sekitar 15 wilayah di seluruh Indonesia, termasuk Bandung, Jabodetabek, Palembang, dan Padang.

Ketua Kelas ketiga KBM Jogja, Deandra Fajri (18), menjelaskan bahwa misi utama komunitas adalah memperkenalkan kembali permainan zaman dahulu.

"Zaman sekarang, terutama Gen Z sudah kurang tertarik pada permainan tradisional, mereka lebih mengandalkan game di ponsel," kata Deandra beberapa waktu lalu.

Dua ketua kelas KBM Jogja sebelumnya yaitu pertama, Muhammad Nabil Pratama, dan kedua, Rishad Haezul Desward.

Ketua KBM Jogja dilanjutkan oleh Deandra Fajri Danar Putra, tetap dengan semangat yang sama yaitu ingin membuktikan bahwa permainan tradisional juga menyenangkan dan tidak kalah menariknya dibandingkan permainan digital.

Setiap akhir pekan, biasanya pada hari Sabtu atau Minggu sore, mulai pukul 15.00 WIB hingga setelah Maghrib, Alun-Alun Kidul atau lokasi lain di Jogja akan dipenuhi tawa dan teriakan gembira.

Beberapa permainan yang sering dimainkan meliputi lompat karet, congklak, bekel, ular naga, bentengan, tarik tambang, dan lempar sendal.

Menurut Deandra, permainan yang paling disukai hingga saat ini adalah lompat karet dan tarik tambang.

Meskipun bergerak secara mandiri, KBM Jogja telah berhasil menarik mitra kolaborasi.

Eva Silviana (23) selaku Humas PR komunitas menjelaskan bahwa hingga saat ini KBM Jogja telah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, seperti Gram Hotel Jogja dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI dan juga bekerja sama dengan Wardah.

Pengurus KBM Jogja berharap melalui komunitas ini, orang-orang dapat berkembang dan memperluas jaringan, serta terus melestarikan permainan tradisional yang mulai dilupakan di tengah era digital.

Solusi Mencari Hubungan

KBM Jogja bukan sekadar tempat bermain, tetapi juga menjadi ruang aman dan jembatan sosial.

Mayoritas pesertanya adalah mahasiswa, sehingga latar belakang mereka sangat beragam, ada yang dari Sulawesi, Bandung, Jawa Barat, dan daerah lain di luar Jogja.

Deandra menyatakan bahwa Komunitas Bermain Yogyakarta (KBM Jogja) merupakan tempat yang cocok bagi mereka yang tidak ingin keluar rumah atau merasa kesulitan mencari teman.

Meskipun pesertanya beragam, pengurus yang terdiri dari sekitar sebelas orang yang aktif memastikan semua orang berbaur.

"Awalnya pasti malu-malu ya, apalagi ketemu banyak orang," kata Deandra. Namun, panitia akan mengajak mereka berkenalan untuk memecah kebekuan.

Salah satu peserta permainan menyampaikan kesannya terhadap aktivitas di KBM Jogja.

"Bermain di komunitas ini bisa memberi sedikit hiburan dan me-refresh otak setelah seminggu beraktivitas. Karena bisa bermain sekaligus bertemu teman-teman lain," kata Audris Khansa (23), salah satu peserta permainan.

Ia juga menambahkan bahwa keputusan untuk mencoba bermain di Alun-Alun Kidul bersama KBM Jogja ternyata membawanya mendapatkan banyak relasi dan teman baru.

"Mereka sangat keren, baik, dan mendukung," katanya.

Sama halnya dengan Rio Zulfa Pambudi (24) peserta lainnya, menurutnya yang paling menarik saat mengikuti KBM Jogja adalah mendapatkan relasi dan teman baru.

Bagi Rio, menyempatkan waktu untuk bermain di tengah kesibukan merupakan cara untuk menjaga stabilitas mental dirinya sendiri.

KBM Jogja pernah mencetak rekor kehadiran hingga sekitar 150 orang dalam satu sesi bermain di Alun-Alun Kidul Yogyakarta.

Hal tersebut merupakan bukti nyata apresiasi dan antusiasme pemuda-pemudi terhadap kegiatan bermain permainan tradisional bersama Komunitas Bermain Yogyakarta. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing)

Penulis blog

Tidak ada komentar