Beranda
Afrika
berita
Indonesia
konflik gaza israel
politik
Warga Gaza Jadi Korban Perdagangan Orang ke Afrika, Diduga Difasilitasi Militer Israel
Redaksi
November 16, 2025

Warga Gaza Jadi Korban Perdagangan Orang ke Afrika, Diduga Difasilitasi Militer Israel

PRESIDENAfrika SelatanCyril Ramaphosa mengatakan pada Jumat, 14 November 2025, bahwa pihak berwenang sedang menyelidiki bagaimana sebuah pesawat carteran yang membawa 153 pengungsi Palestina asalGazamemasuki negara itu tanpa dokumen yang diperlukan.

Seperti dilaporkanTRT World,Ia bahkan menyebut keadaan tersebut "misterius."

"Mereka adalah orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius ditempatkan di pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini," kata Ramaphosa kepada wartawan, sambil menambahkan bahwa badan intelijen dan Kementerian Dalam Negeri sedang menyelidiki insiden tersebut.

DilaporkanAnadolu, mereka tiba dari Kenya untuk mencari perlindungan, setelah sebelumnya ditolak masuk karena tidak lulus wawancara dan tidak memiliki cap keberangkatan resmi di paspor. Warga tersebut berangkat dari Bandara Ramon di Israel, transit di Nairobi, lalu melanjutkan perjalanan ke Johannesburg.

Setelah lebih dari 10 jam di landasan, petugas memberikan pembebasan visa selama 90 hari kepada para penumpang, meskipun 23 orang telah melanjutkan penerbangan sebelum izin dikeluarkan.

Episode ini memicu kemarahan publik di Afrika Selatan, yang telah lama dikenal karena dukungannya yang kuat terhadap hak-hak Palestina.

Kementerian Luar Negeri Palestina menyampaikan apresiasi atas langkah Afrika Selatan. Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyebutkan, "Kami menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas keputusan berdaulat untuk memberikan visa masuk kepada sejumlah warga kami."

Peringatan Perdagangan Manusia

Palestina mengumumkan telah memerintahkan kedutaannya di Afrika Selatan untuk berkoordinasi dekat dengan otoritas setempat.

Sementara Afrika Selatan selama ini merupakan pendukung yang kuat terhadap hak-hak Palestina. Negara tersebut mengajukan gugatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) pada 29 Desember 2023, menuduh Tel Aviv gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida 1948.

Kementerian Luar Negeri Palestina juga memperingatkan perusahaan atau pihak mana pun yang menipu warga Gaza agar pindah ke negara lain atau memanfaatkan kondisi krisis untuk perdagangan manusia. Mereka menyatakan, "Yang melakukan praktik semacam itu akan menanggung konsekuensi hukum dari tindakan ilegal mereka dan akan dituntut serta dimintai pertanggungjawaban."

Departemen tersebut juga memanggil keluarga Palestina, khususnya yang berada di Gaza, untuk waspada terhadap jaringan perdagangan manusia dan pihak-pihak tidak resmi yang menawarkan perpindahan.

Israel Memfasilitasi Pengusiran

Imtiaz Sooliman, Kepala Organisasi Kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada SABC bahwa situasinya terlihat "mengerikan". Ia menuduh Israel mengkoordinasikan penerbangan semacam itu sebagai bagian dari upaya untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.

Sooliman mengatakan para pengungsi membayar biaya tinggi kepada perantara dan dipindahkan ke pangkalan militer Ramon sebelum diterbangkan ke luar negeri.

MenurutBBC, badan penghubung militer Israel, Cogat, mengatakan para pengungsi meninggalkan Gaza setelah menerima "persetujuan dari negara ketiga", tanpa menyebutkan nama negara tersebut.

Seorang penumpang, Loay Abu Saif, mengatakan kepadaAl Jazeerabahwa Israel memfasilitasi pemindahan tersebut dan ia serta keluarganya tidak mengetahui tujuan mereka. Ia menggambarkan perjalanan lebih dari 24 jam itu sebagai "perjalanan penuh penderitaan".

Ia mengatakan penyelenggara mewajibkan dokumen Palestina yang sah, izin keamanan Israel, dan pembayaran sebesar 1.400-2.000 dolar AS per orang, serta menginstruksikan keluarga untuk tidak membawa barang bawaan apa pun selain dokumen.

Rombongan tersebut diangkut dengan bus melalui Rafah ke Karem Abu Salem sebelum dibawa ke Bandara Ramon, tempat paspor tidak dicap.

Kedatangan warga Palestina dengan pesawat pada Kamis, 13 November 2025, adalah penerbangan kedua mereka yang melarikan diri dari perang di Gaza untuk mencapai Afrika Selatan. Adapun penerbangan pertama membawa 176 orang pada bulan lalu.

Menurut laporanAl Jazeera, detail mengenai skema transit Gaza-Afrika Selatan dijalankan oleh sebuah organisasi nirlaba. Para aktivis menilai Israel mendorong perpindahan warga Gaza dengan membantu mereka menetap di negara lain. Situasi ini mencuat di tengah kondisi pengungsian yang kian memburuk.

Data terbaru menunjukkan perang Israel di Gaza telah menewaskan setidaknya 69.187 warga Palestina dan melukai 170.703 orang sejak Oktober 2023. Sekitar 20.000 korban tewas adalah anak-anak.

Sebanyak 1.139 warga Israel tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan sekitar 200 orang ditahan sebagai sandera.

Penulis blog

Tidak ada komentar