NOIS.CO.ID -- , JAKARTA — Ikatan Ahli Perancang Wilayah Indonesia alias IAP menggarisbawahi kebutuhan untuk membentuk pusat-pusat ekonomi baru agar beban Jakarta tidak semakin berat.
Sekretaris Jenderal IAP Adriadi Dimastanto menyebutkan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi di ibu kota menurun, Daerah Khusus Jakarta diyakini masih akan menjadi daya tarik terbesar untuk para pencari pekerjaan serta pusat kegiatan ekonomi.
Menurutnya, pengaruh Jakarta takkan lenyap. Ketimpangan tersebut atau gap Meskipun berada di kota yang lebih jauh masih menjadi tantangan, termasuk untuk kota-kota besar seperti Surabaya dan Medan. Akan tetapi, bergantung hanya pada sebuah kota dipandang kurang sehat dari segi jangka panjang.
“Yang dibutuhkan Indonesia adalah pemerataan pertumbuhan ekonomi lewat pengembangan kota-kota besar di tiap pulau,” ujarnya kepada Bisnis , diambil dari Senin (5/5/2025).
Dia memberikan contoh beberapa kota yang telah mengambil peran penting sebagai pusat ekonomi wilayah seperti Medan, Pekanbaru, Palembang, dan Bandar Lampung di Sumatra; Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, serta Malang di Jawa; Makassar dan Manado di Sulawesi; sampai dengan Balikpapan dan Samarinda yang mendukung pembentukan IKN di Kalimantan.
Pertumbuhan ini, lanjutnya, harus didorong melalui pengembangan potensi lokal.
"Jakarta akan difokuskan sebagai kota bisnis global, sementara kota lain bisa punya orientasi berbeda industri, jasa, atau agroindustri," lanjutnya.
Sebagai contoh, kata dia lagi, area-area industri semacam Kendal, Batang, serta Subang telah mulai berkembangan, demikian pula dengan sentra-sentra produksi pertanian di Medan dan sekitarnya.
Berikutnya agar kota-kota tersebut menjadi daya tarik bagi investor dan warga, pihak pemerintahan setempat mesti beraksi secara proaktif. Ini dimulai dengan peningkatan kondisi investasi di sana, penyederhanaan urusan perijinan, pengaturan zonasi lebih jelas, serta hal terpenting lainnya adalah keharmonisan lingkungan tempat tinggal.
Beberapa parameter untuk kota layak huni meliputi sarana pendidikan, pelayanan kesehatan, area terbuka Hijau, sistem transportasi umum yang efektif, serta kondisi lingkungan yang baik. Jika tidak ada aspek tersebut, migrasi besar-besaran ke Jakarta sulit dibatasi.
Bukan cuma kota pusat saja, tetapi kota sekitar pun perlu ditingkatkan pengembangannya. Kota-kota satelit saat ini seperti Bogor, Depok, dan Bekasi cenderung menjadi pemukiman bagi para pekerja di Jakarta. Hal itu menyebabkan terjadinya kemacetan akibat mobilitas orang-orangan menuju ke kantor setiap hari dengan durasi mencapai dua jam lamanya.
"Pemerintah daerah kota penyangga harus siap menerima investasi dan bisnis. Perusahaan juga perlu didorong memindahkan kantor pusat ke pinggiran agar mobilitas warga lebih efisien. Contoh nyata, kawasan BSD kini mulai dipilih perusahaan multinasional sebagai lokasi kantor utama, mengurangi tekanan di pusat Jakarta,” jelasnya.
Dia optimistis apabila kolaborasi lintas wilayah tercapai, Indonesia bisa punya banyak Jakarta kecil di berbagai pulau yang pada mengurangi kesenjangan, membuka lapangan kerja, dan menciptakan kehidupan yang lebih seimbang.
Redaksi
Tidak ada komentar