NOIS.CO.ID --.CO.ID - JAKARTA. Tidak seperti bank besar di negeri ini, performa bank yang termasuk ke dalamkategori KBMI 3 menunjukkan variasi yang lumayan beragam. pada kuartal I 2025 . B eberapa diantaranya, ada yang mampu mencatatkan per tumbuh an dua digit.
Sepanjang tiga bulan awal periode tersebut, PT BSI Bank Syariah Indonesia Tbk membukukan perolehan laba bersih Rp 1,8 7 triliun. Angka ini meningkat 10% dari capaian pada tahun sebelumnya yaitu Rp 1,70 triliun. triliun.
BSI memang dikenal sangat luas, apalagi dengan rilis terbarunya yang bernama Byond. Dengan ini, pertumbuhan yang didukung teknologi semakin meningkat. fee ( fee based income (FBI) yang mendorong efisiensi kerjanya.
Plt Direktur Utama BSI Bob T Ananta menyatakan bahwa Pendapatan BSI meningkat sebesar 39,3% mencapai angka Rp1,7 triliun. Dalam hal pembagian proporsi, fee based ratio Juga mengalami kenaikan yang signifikan per Maret 2025 dari angka 16,91% hingga mencapai tingkat 20,35%.
Di sisi lain, ia juga menggarisbawahi keberadaan efek positif yang dihasilkan oleh pelayanan tersebut bullion Bank yang baru dirilis di akhir Februari 2025 ini mempengaruhi performa Bisnis Bank Syariah Indonesia (BSI). Berdasarkan data, pertumbuhan bisnis emas di BSI meningkat sebesar 81,99% secara tahunan menjadi angka Rp 14,33 triliun. Salah satu komponen utama dalam peningkatan tersebut adalah cicilan emas yang naik signifikan hingga Rp7,37 triliun atau bertambah 168,64% secara tahunan dibanding periode sebelumnya. Sementara itu, gadai emas juga menunjukkan perkembangan dengan total mencapai Rp6,96 triliun dan mengalami kenaikan sebanyak 35,65% YoY.
“ Usaha emas dapat menyumbang fee based income Perusahaan menyumbang sebanyak 17,81%, demikian kata Bob.
CIMB Niaga sedikit lebih berhati-hati di awal tahun ini untuk periode tiga bulan pertama. Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, mereka fokus pada pengendalian pertumbuhan laba sambil tetap menjamin kualitas kredit yang baik.
Pada semester pertama tahun 2025, perusahaan mencatatkan keuntungan bersih senilai Rp 1,8 triliun, meningkat 7,4% dibandingkan dengan angka yang tercatat pada periode serupa di tahun sebelumnya yaituRp 1,68 triliun.
Berikutnya, implementasi manajemen risiko secara ketat ditunjukkan oleh penurunan Gross Non-Performing Loan (NPL) menjadi 1,85% dibandingkan dengan 2,14% di periode setahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah kredit atau pembiayaannya meningkat 8,7% Year-on-Year (YoY) hingga mencapai Rp 230,1 triliun.
Lani mengatakan bahwa mereka secara berkelanjutan membangun dasar bisnis melalui pertumbuhan yang disertai dengan pendekatan penuh kewaspadaan serta melakukan investasi strategis guna mendorong pembentukan nilai dalam jangka waktu lama.
Sementara itu, ada bank milik investor asal Singapura PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) yang menyusul dengan laba bersih senilai Rp1,29 triliun. Pertumbuhan labanya pun cukup signifikan yaitu mencapai 11% YoY
Adapun, pertumbuhan laba tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan operasional sebesar 13% YoY menjadi Rp 3,2 triliun. Meski demikian, Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja memastikan pertumbuhan kinerja OCBC di kuartal I/2025 tersebut tetap berkualitas.
"Meskipun di awal tahun ini masih diwarnai dengan dinamika kondisi makroekonomi global, pertumbuhan bank yang solid ini mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap bank yang tetap terjaga," ujarnya.
Pada periode tersebut, OCBC mencatat DPK tumbuh 21% menjadi Rp 217,7 triliun. Dari sisi pembiayaan, kredit konsumer tumbuh 16% YoY, dan kredit perbankan bisnis tumbuh sebesar 10% YoY.
Kondisi likuiditas perseroan berada dalam kondisi baik dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 259%, jauh di atas ketentuan regulator. Sementara itu, rasio kredit bermasalah bruto (NPL Gross) sebesar 1,7% dan NPL Net di angka 0,7%.
"Dalam menghadapi dinamika ekonomi nasional dan global, tentunya kami akan terus berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian, dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan manajemen risiko, demi memberikan nilai berkelanjutan bagi nasabah dan juga seluruh pemangku kepentingan,” tambah Parwati.
Pada saat yang sama, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) sudah mengakhiri kuartal I/2025 dengan hasil operasional yang baik. Keuntungan bersih BTN meningkat sebesar 5,05% secara year-on-year dan tercatat senilai Rp 903,7 miliar.
Peningkatan keuntungan ini mengindikasikan pemulihan yang cukup besar selama tiga bulan awal tahun ini. Sebagai catatan, di bulan February 2025, laba bersih BTN telah meningkat secara signifikan. bank only tetap mengalami penurunan sebesar 54,66% YoY atau setara dengan Rp 251,97 miliar.
Redaksi
Tidak ada komentar