NOIS.CO.ID , Jakarta - Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bertanggung jawab untuk mengambil keputusan akhir terkait kemungkinan penutupan Selat Hormuz setelah serangan udara oleh Amerika Serikat. Saluran televisi berita berbahasa Arab, Al Arabiya , melaporkan bahwa Iran telah lama memanfaatkan ancaman penutupan jalur strategis tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan dari negara-negara Barat.
Ancaman ini kembali mencuat sebagai respons atas meningkatnya tekanan internasional, terutama setelah serangan AS yang menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran pada Ahad, 22 Juni 2025. Meskipun isu penutupan Selat Hormuz kembali mengemuka, belum ada keputusan final, dan parlemen pun belum secara resmi mengesahkan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan langkah tersebut
"Untuk saat ini, (parlemen telah) sampai pada kesimpulan bahwa kita harus menutup Selat Hormuz, tetapi keputusan akhir dalam hal ini adalah tanggung jawab Dewan Keamanan Nasional Tertinggi,” kata anggota komisi keamanan nasional parlemen, Esmail Kosari. Kosari, yang juga merupakan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebelumnya mengatakan kepada Klub Jurnalist Muda bahwa penutupan Selat Hormuz ada dalam agenda dan "akan dilakukan kapan pun diperlukan".
Mengenal Selat Hormuz
Disusun dari situs Pusat Strauss , Hindustan Times , dan Jagran Josh, berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang Selat Hormuz:
1. Menghubungkan Iran dan Oman
Selat Hormuz merupakan jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, sekaligus menjadi satu-satunya jalur keluar masuk kapal dari kawasan Teluk menuju Samudra Hindia. Letaknya yang strategis menjadikan selat ini sangat vital bagi lalu lintas maritim global, khususnya dalam perdagangan minyak bumi. Karena menjadi satu-satunya penghubung dari wilayah Teluk, Selat Hormuz memainkan peran kunci dalam kelancaran distribusi energi dunia.
2. Memiliki Lebar 33 Kilometer
Di titik tersempitnya, Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Untuk mengatur padatnya lalu lintas kapal, diterapkan Skema Pemisahan Lalu Lintas (Traffic Separation Scheme/TSS) yang diakui oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
TSS terdiri dari dua jalur pelayaran selebar dua mil, masing-masing untuk kapal masuk dan keluar, serta dipisahkan oleh zona penyangga selebar dua mil. Meskipun ruang gerak sangat terbatas, perairan di jalur ini cukup dalam untuk dilalui oleh kapal tanker minyak berukuran sangat besar.
3. Tempat Transit Terpenting di Dunia
Menurut Badan Informasi Energi AS, Selat Hormuz adalah "titik transit minyak terpenting di dunia", yang memperkirakan 20 persen konsumsi minyak dunia melewatinya. Lebarnya 33 kilometer (21 mil) pada titik tersempitnya, tetapi jalur pelayaran perairan itu jauh lebih sempit, sehingga rentan terhadap serangan dan ancaman penutupan.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, pada 2023 lebih dari 20 juta barel per hari (mb/d) minyak mentah dan produk olahan, atau hampir 30 persen dari total perdagangan minyak dunia, melewati Selat Hormuz. Sekitar 70 persen dari jumlah ini menuju Asia, dengan Tiongkok, India, dan Jepang menjadi penerima manfaat utama.
4. Memblokir Selat Hormuz Akan Menyebabkan Harga Minyak Naik
Selat Hormuz merupakan rute utama pengiriman sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia. Jika selat ini benar-benar diblokir, bahkan hanya untuk waktu singkat, gangguan tersebut dapat langsung memicu kepanikan di pasar energi global.
Ketidakpastian pasokan akan menyebabkan harga minyak melonjak drastis akibat kekhawatiran terhadap kelangkaan. Negara-negara pengimpor minyak utama, termasuk di Asia dan Eropa, sangat bergantung pada stabilitas jalur ini. Selain itu, dampaknya tidak hanya terbatas pada harga minyak mentah, tetapi juga dapat menjalar ke sektor-sektor lain seperti transportasi, manufaktur, dan konsumsi rumah tangga.
5. Iran Pernah Menyita Kapal Israel di Dekat Selat Hormuz
Di 2024, ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyita sebuah kapal kontainer bernama MSC Aries di dekat Selat Hormuz.
Kapal Yang diketahui memiliki keterkaitan dengan perusahaan pelayaran yang berhubungan dengan Israel, yang menjadi latar belakang utama tindakan tersebut. Penahanan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik regional dan ketegangan diplomatik antara Iran dan Israel, serta negara-negara Barat yang mendukung Israel.
Redaksi
Tidak ada komentar