Beranda
berita
insiden
kontroversi
politik
skandal
Tokoh Kepala Sekolah Aspinawati Harahap Terkena Dampak Guru Memukul Nasi Kotak, Pungutan Liar Ratusan Juta Rupiah Kini Dipecat
Redaksi
November 16, 2025

Tokoh Kepala Sekolah Aspinawati Harahap Terkena Dampak Guru Memukul Nasi Kotak, Pungutan Liar Ratusan Juta Rupiah Kini Dipecat

Ringkasan Berita:
  • Tokoh Aspinawati Harahap, Kepala Sekolah SDN 021 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau yang dipecat dari jabatannya'
  • Orang tua siswa yang awalnya protes karena khawatir terhadap insiden guru memukul nasi kotak di depan siswa dan guru
  • Ternyata pungutan liar sejumlah ratusan juta rupiah di sekolah tersebut terungkap selama masa kepemimpinan Aspinawati Harahap
 

NOIS.CO.IDIni adalah sosok Aspinawati Harahap, Kepala Sekolah SDN 021 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau yang dipecat dari jabatannya.

Setelah video beredar, nasib Aspinawati Harahap terancam.

Orang tua siswa yang awalnya protes karena khawatir terhadap insiden guru memukul nasi kotak di depan siswa dan guru pada saat itu.

Namun, aksi protes justru berujung pada fakta yang berbeda.

Insiden guru memukul nasi kotak ternyata mengungkap fakta lain.

Ternyata pungutan liar sejumlah ratusan juta rupiah di sekolah tersebut terungkap selama masa kepemimpinan Aspinawati Harahap.

Awalnya tindakan itu sebagai bentuk kekhawatiran. Kemudian, masalah semakin meluas.

Momen itu mengungkapkan praktik pungli di sekolah tersebut.

Orang tua siswa satu per satu menyampaikan penggalangan dana yang terjadi.

Jika dijumlahkan, diperkirakan pungutan liar di SDN 021 Tarai Bangun mencapai ratusan juta rupiah.

Dinas Pendidikan Kampar akhirnya turun tangan.

Dua guru honorer dihentikan terkait insiden membanting nasi kotak.

Sementara Kepsek Aspinawati Harahap dipecat terkait pemungutan.

Insiden Guru Memukul Nasi Kotak

Peristiwa seorang guru honorer memukul kotak terjadi pada Senin (10/11/2025), setelah kegiatan sosialisasi perundungan yang diselenggarakan Kejaksaan Negeri Kampar dan Dinas Pendidikan Kampar.

Dalam video yang beredar secara viral, seorang guru honorer bernama Yon Hendri tampak membanting nasi kotak di depan murid dan guru lainnya. Anak-anak terlihat berdiri menyaksikan kejadian itu di depan ruang kelas.

Hendri menjelaskan, ia memecahkan nasi kotak karena terjadi perselisihan dengan sejumlah guru mengenai teknis pembagian.

Ia meminta pembagian dilakukan di dalam kelas agar tertib, sementara guru lain ingin dibagikan segera.

"Setelah saya lakukan itu, guru tidak menerima sikap saya," kata Hendri.

Tindakan guru yang memukul nasi kotak itu langsung memicu reaksi orang tua siswa.

Pada Rabu (12/11/2025), ratusan orang tua siswa bersama siswa menggelar demonstrasi di sekolah.

Awalnya, demo itu dilakukan untuk memprotes tindakan guru.

Namun, tindakan tersebut justru mengungkap dugaan praktik pungli yang selama ini mereka alami di bawah kepemimpinan Kepsek Aspinawati Harahap.

Pada demo tersebut, orang tua siswa menyampaikan berbagai biaya yang dianggap memberatkan dan tidak transparan, antara lain:

- Iuran tanah timbun: Rp 50.000 per orang tua

- Iuran penghijauan sekolah: Rp 35.000 per siswa

- Potongan dana Program Indonesia Pintar (PIP): Rp 50.000

- Biaya pembelian buku Tes Kemampuan Akademik (TKA)

- Uang masuk sekolah tanpa bukti pembayaran dan nominal berbeda antar siswa

- Uang seragam untuk siswa baru sebesar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta

Seorang orang tua siswa mengungkapkan, total pengutipan yang terjadi selama ini bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Jumlah siswa banyak di sini, ada 1.000. Jadi jika dikumpulkan semua bisa ratusan juta," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (14/11/2025).

"Belum lagi uang masuk dari murid baru yang berkisar antara satu juta hingga tiga juta. Alasannya untuk membayar seragam," tambahnya.

Wali murid lain, Elnawati, juga menegaskan bahwa biaya tambahan tersebut tidak pernah dibahas, apalagi disepakati melalui rapat komite.

"Tidak ada tanggung jawab. Rapat hanya formalitas saja," katanya.

Kepala Sekolah Dicopot, Honorer Dipecat

Mengikuti demo dan laporan orang tua siswa, Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar segera mengambil tindakan.

Kepala Disdik Kampar, Siti, menyampaikan bahwa Kepala Sekolah Aspinawati Harahap dipecat dari jabatannya karena dianggap arogan dan semena-mena dalam memimpin sekolah.

"Kepala sekolah yang melaporkan kepada kami diancam. Dengan berat hati, saya harus menyampaikan bahwa kepala sekolah tersebut dipecat dari jabatannya," kata Siti, Rabu (12/11/2025).

Tidak hanya kepala sekolah, dua guru honorer juga dihentikan, yaitu Yon Hendri, guru yang viral karena memukul kotak nasi, dan Reza Arya Putra, guru honorer lainnya yang ikut terlibat dalam masalah di sekolah.

"Kami menerima banyak keluhan dari orang tua murid terhadap kedua tenaga pendidik tersebut," kata Siti.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikdasmen, jumlah siswa SDN 021 Tarai Bangu sebanyak 995 orang dengan rincian 505 laki-laki dan 490 perempuan.

Pada tahun 2025, penerima PIP di sekolah itu tercatat sebanyak 226 siswa dengan total anggaran Rp75.825.000.

Jumlah tersebut turun dari 2024, yaitu 267 siswa dengan anggaran Rp 117.900.000.

Kasus dugaan pungutan liar dan pemotongan dana PIP ini juga mendapat perhatian Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Riau.

Kepala Ombudsman Riau, Bambang Pratama, menyatakan pihaknya akan melakukan penelusuran menyeluruh.

"Mengenai dugaan pemotongan PIP itu, Ombudsman akan turun," katanya, Kamis (13/11/2025).

Ombudsman juga akan memeriksa seluruh bentuk pemungutan di sekolah.

"Masalah pemotongan dan pungutan terkait layanan dasar di bidang pendidikan. Hal semacam ini harus selesai dan tidak boleh dibiarkan," tegasnya.

Bambang mengatakan, Ombudsman akan berkoordinasi dengan Pemkab Kampar, mulai dari Bupati, Inspektorat hingga Disdikpora.

Jika unsur pidana ditemukan, kasus tersebut harus dibawa ke ranah hukum.

"Jika ada unsur pidananya, serahkan kepada penegak hukum," katanya.

Total Pungutan Ratusan Juta Rupiah

Seorang orang tua siswa mengungkapkan, total pengutipan yang terjadi selama ini bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Jumlah siswa banyak di sini, ada 1.000. Jadi jika dikumpulkan semua bisa ratusan juta," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (14/11/2025).

"Belum lagi uang masuk dari murid baru yang berkisar antara satu juta hingga tiga juta. Alasannya untuk membayar seragam," tambahnya.

Wali murid lain, Elnawati, juga menegaskan bahwa biaya tambahan tersebut tidak pernah dibahas, apalagi disepakati melalui rapat komite.

"Tidak ada pertanggungjawaban. Rapat hanya formalitas saja," katanya.

Dua Guru Tidak Tetap Dipecat

Insiden guru honorer memukul nasi kotak di SD Negeri 021 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, berbuntut panjang.

Akibat peristiwa viral guru memukul nasi kotak akhirnya terungkap pungutan liar (pungli) yang mencapai ratusan juta rupiah di sekolah tersebut.

Dampak dari polemik ini, dua guru honorer dihentikan terkait insiden memukul nasi kotak. Sementara Kepala Sekolah Dasar Negeri 021 Aspinawati Harahap dicopot terkait pungutan.

Peristiwa seorang guru honorer memukul kotak terjadi pada Senin (10/11/2025), setelah kegiatan sosialisasi perundungan yang diadakan Kejaksaan Negeri Kampar dan Dinas Pendidikan Kampar.

Dalam video yang beredar secara viral, guru honorer bernama Yon Hendri tampak membanting kotak nasi di depan murid dan guru lainnya. Anak-anak terlihat berdiri menyaksikan kejadian itu di depan ruang kelas.

Hendri menjelaskan, ia memecahkan nasi kotak karena terjadi perselisihan dengan sejumlah guru mengenai teknis pembagian.

Ia meminta pembagian dilakukan di dalam kelas agar tertib, sementara guru lain ingin dibagikan segera. "Setelah saya banting itu, guru tidak menerima sikap saya," kata Hendri.

Tindakan guru yang memukul nasi kotak itu langsung memicu reaksi orang tua murid. Pada Rabu (12/11/2025), ratusan wali murid bersama siswa menggelar demonstrasi di sekolah.

Awalnya, demo tersebut dilakukan untuk memprotes tindakan guru. Namun, aksi tersebut justru menimbulkan dugaan adanya praktik pungutan liar (pungli) yang selama ini mereka alami di bawah kepemimpinan Kepsek Aspinawati Harahap.

Mengikuti demo dan laporan orang tua siswa, Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar segera mengambil tindakan.

Kepala Disdik Kampar, Siti, menyampaikan bahwa Kepala Sekolah Aspinawati Harahap dipecat dari jabatannya karena dianggap arogan dan sewenang-wenang dalam memimpin sekolah.

"Kepala sekolah yang melaporkan kepada kami diancam. Dengan berat hati, saya harus menyampaikan bahwa kepala sekolah tersebut dipecat dari jabatannya," kata Siti, Rabu (12/11/2025).

Bukan hanya kepala sekolah, dua guru honorer juga dihentikan, yaitu Yon Hendri, guru yang viral karena memukul kotak nasi, dan Reza Arya Putra, guru honorer lainnya yang ikut terlibat dalam masalah di sekolah.

"Kami menerima banyak keluhan dari orang tua murid terhadap dua tenaga pendidik tersebut," kata Siti.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikdasmen, jumlah siswa SDN 021 Tarai Bangu sebanyak 995 orang dengan rincian 505 laki-laki dan 490 perempuan.

Pada tahun 2025, penerima PIP di sekolah itu tercatat sebanyak 226 siswa dengan total anggaran Rp75.825.000.

Jumlah tersebut turun dari 2024, yaitu 267 siswa dengan anggaran Rp 117.900.000.

Kasus dugaan pungutan liar dan pemotongan dana PIP ini juga mendapat perhatian Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Riau.

Kepala Ombudsman Riau, Bambang Pratama, menyatakan pihaknya akan melakukan penelusuran menyeluruh.

"Mengenai dugaan pemotongan PIP itu, Ombudsman akan turun," katanya, Kamis (13/11/2025).

Ombudsman juga akan memeriksa seluruh bentuk pemungutan di sekolah.

"Masalah pemotongan dan pungutan terkait layanan dasar di bidang pendidikan. Hal semacam ini harus selesai dan tidak boleh dibiarkan," tegasnya.

Bambang mengatakan, Ombudsman akan berkoordinasi dengan Pemkab Kampar, mulai dari Bupati, Inspektorat hingga Disdikpora.

Jika unsur pidana ditemukan, kasus tersebut harus dibawa ke ranah hukum.

"Jika ada unsur pidananya, serahkan kepada penegak hukum," katanya.

(Tribunpekanbaru.com/Tribunmedan.com/Tribunnews.com/NOIS.CO.ID)

Penulis blog

Tidak ada komentar